1. Denjaka
Denjaka
merupakan kepanjangan dari Detasemen Jala Mangkara. Denjaka adalah
pasukan elite di bawah garis komando Marinir TNI AL yang mempunyai tugas
khusus menangani penanggulangan teror aspek laut. Untuk bisa terpilih
menjadi pasukan Denjaka, mereka harus menjalani pelatihan yang sangat
berat. Setiap tahunnya hanya ada 50 orang yang lulus untuk menjadi
pasukan Denjaka.
Pasukan
ini merupakan gabungan dari Kopaska dan Taifib Korps Marinir TNI-AL,
Anggota Denjaka dididik di Bumi Marinir Cilandak dan harus menyelesaikan
suatu pendidikan yang disebut PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut).
Lama pendidikan ini adalah 6 bulan. Intinya Denjaka memang dikhususkan
untuk satuan anti teror walaupun mereka juga bisa dioperasikan di mana
saja terutama anti teror aspek laut. Denjaka dibentuk berdasarkan
instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No Isn.01/P/IV/1984
tanggal 13 November 1984. Denjaka memiliki tugas pokok membina
kemampuan antiteror dan antisabotase di laut dan di daerah pantai serta
kemampuan klandestin aspek laut.
Pelatihan
keras menjadi prajurit Denjaka diawali dari Kawah Candradimuka,
Situbondo-Jawa Timur. Pasukan Denjaka ini sempat diperkuat hanya belasan
prajurit saja. Hal ini karena latihan untuk menjadi pasukan elite ini
memang sangat berat. Mereka yang tak lulus dikembalikan kepada
kesatuannya masing-masing.
Selain
harus memiliki fisik yang prima, calon prajurit Denjaka juga harus
memiliki kecerdasan yang tinggi. Hal ini mutlak harus dimiliki karena
pasukan elite TNI AL ini sering ditugaskan menyusup di daerah operasi,
baik secara individu maupun kelompok.
2. Batalyon Raiders TNI AD
Batalyon
Raider adalah satu batalyon pasukan elit infanteri Tentara Nasional
Indonesia (TNI). Sepuluh batalyon raider yang diresmikan pada 22
Desember 2003 itu, dibentuk dengan membekukan 8 yonif pemukul Kodam dan 2
yonif Kostrad. Sebagai kekuatan penindak, kekuatan satu batalyon raider
(yonif/raider) setara tiga kali lipat kekuatan satu batalyon infanteri
(yonif) biasa di TNI Angkatan Darat.
Setiap
batalyon raider terdiri atas 747 personel. Mereka memperoleh pendidikan
dan latihan khusus selama enam bulan untuk perang modern, anti-gerilya,
dan perang berlarut. Tiap-tiap batalyon ini dilatih untuk memiliki
kemampuan tempur tiga kali lipat batalyon infanteri biasa. Mereka
dilatih untuk melakukan penyergapan dan mobil udara, seperti terjun dari
Helikopter.
Batalyon
Raiders ini memiliki kemampuan yang setara dengan tiga kali pasukan
infanteri biasa. Batalyon Raiders memiliki kemampuan sebagai pasukan
anti teroris untuk pertempuran jarak dekat, lawan gerilya dengan
mobilitas tinggi dan melakukan pertempuran-pertempuran berlanjut. Mereka
juga dilatih untuk melakukan penyergapan dan mobilisasi udara (mobud),
seperti terjun dari helikopter.
3. Peleton Intai Tempur (Tontaipur)
Peleton
Intai Tempur biasa disebut (Tontaipur) adalah pasukan berkualifikasi
khusus Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat. Pembinaan satuan
berada di Batalyon Intelijen dan dalam pengoperasian dibawah kendali
Panglima Kostrad yang berkemampuan tri matra. Anggotanya direkrut dari
satuan-satuan yang berdinas di Kostrad.
Agar
dapat bergabung menjadi pasukan Tontaipur, dibutuhkan kualifikasi
prajurit yang sangat tinggi. Para calon pasukan Tontaipur wajib melalui
pelatihan berat yang berlangsung selama 7 bulan. Dengan kualifikasi yang
tinggi tersebut, hanya 500 prajurit saja yang dinyatakan lulus,
sehingga jumlah pasukan elite Tontaipur ini tak terlalu besar.
4.Batalyon Intai Amfibi (YonTaifib)
Batalyon
Intai Amfibi atau disingkat YonTaifib adalah satuan elit dalam Korps
Marinir seperti halnya Kopassus dalam jajaran TNI Angkatan Darat.
Dahulunya satuan ini dikenal dengan nama KIPAM (Komando Intai Para
Amfibi).
Untuk
menjadi anggota YonTaifib, calon diseleksi dari prajurit marinir yang
memenuhi persyaratan mental, fisik, kesehatan, dan telah berdinas aktif
minimal dua tahun. Salah satu program latihan bagi siswa pendidikan
intai amfibi, adalah berenang dalam kondisi tangan dan kaki terikat,
sejauh 3 km. Dari satuan ini kemudian direkrut lagi prajurit terbaik
untuk masuk kedalam Detasemen Jala Mengkara, pasukan elitnya TNI
Angkatan Laut.
Perekrutan
prajurit dilakukan secara sukarela dari anggota Marinir yang berada di
seluruh bagian tempur, baik infanteri, artileri, kavaleri, bantuan
tempur dan pertahanan pangkalan, sebab mereka dianggap telah memiliki
teknik pertempuran dasar.
Metode
pelatihan dibagi dalam beberapa tahap dalam tiga matra, yakni darat,
laut, udara dan bawah air. Seluruhnya dijalani selama 9 bulan di 8 Pusat
Latihan Pertempuran (Puslatpur).
5. Satbravo 90 (Satuan Bravo 90)
Satuan
Bravo 90 (disingkat Satbravo-90) sebelumnya bernama Denbravo 90 adalah
satuan pelaksana operasi khusus Korps Pasukan Khas yang berkedudukan
langsung di bawah Dankorpaskhas. Satuan Bravo 90 Paskhas bertugas
melaksanakan operasi intelijen, melumpuhkan alutsista/instalasi musuh
dalam mendukung operasi udara dan penindakan teror bajak udara serta
operasi lain sesuai kebijakan Panglima TNI.
Terbilang
pasukan khusus Indonesia yang paling muda pembentukannya. Baru dibentuk
secara terbatas di lingkungan Korps Pasukan Khas TNI-AU pada 1990,
Bravo berarti yang terbaik. Konsep pembentukannya merujuk kepada
pemikiran Jenderal Guilio Douchet: Lebih mudah dan lebih efektif
menghancurkan kekuatan udara lawan dengan cara menghancurkan
pangkalan/instalasi serta alutsista-nya di darat daripada harus
bertempur di udara.
Dibanding
dua kakaknya di Sat-81 TNI AD dan Denjaka TNI AL, Bravo ini bisa
disebut anak bungsu. Sat Bravo 90 dibentuk tahun 1990 di Markas Korps
Pasukan Khas TNI AU, Margahayu Bandung. Karena lahir di tubuh TNI AU,
pasukan ini memiliki spesialisasi antiteror udara.
Tak
cuma itu, Bravo-90 juga melengkapi personelnya dengan beragam
kualifikasi khusus tempur lanjut. Mulai dari combat free fall, scuba
diving, pendaki serbu, teknik terjun HALO (High Altitude Low Opening)
atau HAHO (High Altitude High Opening), para lanjut tempur, pertempuran
jarak dekat dan antiteror.





















